Mengunjungi Telaga Sarangan, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, menjadi kunjungan pertama bagi ibu-ibu Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Rukun Warga VII Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Surabaya, setelah dua tahun lebih, tidak melakukan dolan bareng akibat pandemi Covid-19. Penurunan angka penderita Corona itu, disambut dengan suka cita bagi pelaku usaha mikro menengah ini.
“Hore, kami sudah bisa rekreasi kembali bersama guru PAUD. Pergilah jauh-jauh kau Corona,” kata Ibu Supriyono, pengelola PAUD tersebut, kepada Kirana, yang ditemui di Telaga Sarangan, pekan lalu,
Bu Pri, demikian panggilan akrabnya mengatakan, sebelum pandemi melanda negeri ini, ia bersama guru PAUD, berwisata dua bulan sekali. Sejak pandemi, aktivitas untuk penyegaran tersebut berhenti total. Rekreasi, katanya, tidak harus ke objek wisata yang berbayar relatif mahal. Tetapi, ke lokasi yang murah meriah dengan pemandangan alamnya yang bagus, sudah cukup. Yang penting kelompok dolan bareng ini bahagia.
Dengan kendaraan roda empat sewaan, keluarga PAUD ini meluncur ke Sarangan. Objek wisata yang menurut mereka, sungguh menyenangkan. Lokasinya yang berada di lereng Gunung lawu (3.265 meter), dengan suhu udara 18-23 derajat Celcius, menjadikan objek wisata ini selalu tertutup kabut, sehingga memancarkan kesejukan bahkan pesona alam yang asri.
Telaga dengan luas 30 hektare, memiliki kedalaman 28 meter. Saat musim penghujan, air kelihatan penuh. Sebaliknya saat kemarau air telaga menyusut, tetapi tidak sampai kering. Bagi wisatawan baik domestik maupun manca negara, yang ingin berkeliling telaga, bisa menyewa speedboat, yang dapat disewa pengunjung setiap saat.
Pengemudi speedboat semuanya lincah mengemudikan kendaraan air ini. Ketika membawa turis yang menyewanya, sopir speedboat, tiba-tiba meliukkan kapal kecil di atas air telaga. Pada saat begitu, para penumpangnya merasakan sensasi yang luar biasa. Mereka senang bahkan bersorak kegirangan. Momen tadi selalu ditunggu para penumpangnya. Tarif speedboat ditetapkan sebesar Rp 60.000 per penumpang, untuk jangka waktu sekitar 20 menit berkeliling telaga ini.
Alternatif lain agar wisatawan dapat mengelilingi telaga, bisa menumpang kuda. Dengan tarif Rp 60.000 per penumpang, kuda-kuda yang kelihatan bersih dan sehat, siap mengantarkan penumpangnya.
Turis dipandu berkeliling oleh pemandu kuda, menembus hutan pinus berkeliling telaga. Suhu udara yang sudah sejuk dan nyaman, akan semakin sejuk ketika melewati hutan pinus. Pengunjung selalu disarankan naik kuda sekaligus menjadi joki, agar lebih berkesan selama berwisata di Sarangan.
Bagi yang senang foto, para pemandu kuda, siap menjadi juru foto. Bahkan tukang kuda tadi sudah mengetahui lokasi yang paling bagus untuk foto, dengan latar belakang indahnya telaga dan lereng Gunung Lawu.
Sate Kelinci
Hawa sejuk dan nyaman disertai udaranya yang bersih, menjadikan Telaga Sarangan, selalu menjadi jujugan wisatawan, baik yang berasal dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur, maupun daerah-daerah lainnya dari Jawa Tengah, Jawa Barat, DKI Jakarta dan Bali. Para pengunjung yang terdiri dari keluarga kecil bahkan rombongan menggunakan bus, setiap hari banyak yang mengunjungi Sarangan.
Kantor pemerintah maupun swasta, banyak pula yang mengadakan acara rapat kerja, pertemuan ilmiah, reuni serta perpisahan. Acara tersebut, bukan hanya pada Sabtu dan Minggu, tetapi pada hari-hari kerja. Dengan demikian, Sarangan, tidak pernah sepi bagi kunjungan wisatawan dari berbagai daerah.
“Salah satu daya tarik ketika sudah berada di Sarangan, adalah banyaknya penjual sate kelinci dan wedang ronde. Bahkan ada ungkapan, mengunjungi Sarangan, terasa belum lengkap, apabila tidak makan sate kelinci,” kata Aisyah.
Sate kelinci, memang banyak dijual di pinggir telaga, mulai pagi, siang, sore sampai malam hari. Di dekat penjual sate itu, biasanya ada penjual ronde, minuman khas untuk menghangatkan badan, di tengah hawa dingin di sekitar telaga ini. Harga sate kelinci legkap dengan lontong dipatok Rp 15.000 untuk sepuluh tusuk.
Para pengunjung dapat pula menikmati kacang dan jagung rebus, yang banyak juga dijajakan warga setempat. Ngobrol di pinggir telaga, pada siang, sore maupun malam hari sambil menikmati penganan tadi memang asyik, karena udaranya yang mendukung.
Khas Magetan
Yang menarik lainnya, saat pagi hari antara pukul 05.30-08.00, banyak bakul pecel pincuk, ke luar masuk penginapan yang biasanya tidak menyiapkan sarapan. “Monggo pecele……monggo sarapan pecel,” kata ibu-ibu penjual pecel, di teras-teras penginapan. Harga satu pincuk dengan lauk pauk, tempe goreng, dadar jagung dan peyek seharga Rp 15.000.
Ibu-ibu tadi, biasanya juga membawa dagangan oleh-oleh Khas Magetan, seperti kerupuk puli, ampyang (kacang dan gula merah), keripik singkong, carangmas dan penganan tradisional lainnya. Sementara di pasar penjualan souvenir, banyak dijual aneka buah lokal, petai, aneka bunga.
Apabila wisatawan menginginkan aneka kerajinan terbuat dari kulit, bisa langsung ke Pasar Baru di Magetan. Aneka kerajinan yang spesifik adalah sepatu dan sandal pria, wanita. Harganya murah. Untuk sepatu kulit pria, hanya Rp 175.000, sedangkan sandal wanita Rp 125.000.
Posisi Sarangan ini strategis, karena bisa tembus ke objek wisata Grojogan Sewu, Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Untuk mengunjungi Sarangan, jika menggunakan angkutan umum. Dari arah Surabaya, menuju Madiun kemudian Magetan. Dari terminal Magetan kemudian dilanjutkan angkutan kota menuju Sarangan. Sesampainya di sekitar telaga ini banyak berderet penginapan dengan tarif Rp 60.000-Rp 500.000 per kamar.
Tarif masuk Sarangan ditetapkan sebagai berikut. Tiket masuk Rp 20.000 untuk pengunjung dewasa dan Rp 10.000 untuk anak-anak. Ada pun tiket masuk sepeda motor Rp 2.500, mobil Rp 5.000, bus/truk Rp 10.000. (ros)
















